Menulis Hati, Mencari diri

aih… seharusnya judulnya tuh di ganti “Mengetik Hati, Mencari Diri”. Cuman koq di dengar kurang enak kalo pakai kata mengetik yo wis nganggo menulis wae menggantikan kata mengetik, walaupun nyatane yo ngetik di laptop heh5x….

Pernahkah anda membaca buku2 literatur psikologi? kalo iya mungkin anda pernah mendengar psikolog yang mengatakan (terutama psikolog penganut aliran humanistis) bahwa dengan mengenali diri kita sendiri maka kita akan lebih mudah mendekatkan diri ke Tuhan kita.

Berratus-ratus tahun yang lalu, Baginda Rasulullah Muhammad SAW, pernah berkata (dalam Hadist Qudsi-Yaitu Ucapan Baginda Rasul yang berasal dari Allah SWT yang dihujamkan langsung ke hati beliau tanpa melalui malaikat jibril)

“Man arafa nafsahu, faqad arafa rabbahu”

yang artinya kira2

“Barang siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya”

Dari hadist qudsi ini kemudian muncul pertanyaan mendasar tentang hakikat Manusia. Sebegini pentingkah mengenal diri sehingga Allah SWT mengingatkan Baginda Rasul langsung? bukankah kita telah mengenal diri kita sendiri?, bahkan setiap blog mencatumkan tulisan “about me” dan semua situs social networking-pun mencatumkan form about me juga, bugitu gampangkah menulis about me?

Ada cerita menarik yang bisa dijadikan renungan dari komedian kondang Charly Chaplin dari tanahnya si ganteng David Beckham. Dalam bukunya “Motivate Your Self” si Chaplin menulis bahwa dia pernah mengikuti lomba mirip Charly Chaplin (yang nyatanya ya dirinya sendiri). Ternyata dia hanya mendapat predikat ke 3. Sungguh ironis… kadang kita bahkan tidak bisa mengenali watak dan karakter diri kita sendiri, justru orang lainlah yang lebih mengenal kita, karena itulah kita membutuhkan cermin diri walaupun nanti kita akan melihat kebusukan dan kekurangan kita, bopeng bekas jerawat di wajah kita, kerutan-kerutan, dan kulit yang tidak sehalus dan seputih yang kita harapkan. Tapi itulah diri kita pada kenyataannya, dan mungkin ini yang membuat kita lebih mendekat ke hadirat-Nya. Mensyukuri semua pemberiannya dan menjaga apa-apa yang telah diberikannya.

Masih banyak kiasan dan cerita tentang betapa bodohnya diri kita terhadap pengenalan diri sendiri mulai cerita sederhana di atas sampai ke tahapan kisah yang lebih mendalam seperti dalam buku “Musyawarah Burung” dari Jalalaluddin Rummi. Kita memiliki kebiasaan bodoh berjamaah dengan mengasosiakan diri kita dengan label dan ukuran seperti nama, profesi, No KTP, kebiasaan, warna rambut dan kulit sampai ukuran BH segala. Tapi kita tidak mengetahui atau tidak berusaha menyelami diri sendiri untuk mencari tahu si “aku”.

Apakah mengenali diri sendiri sebatas membuat list kekurangan dan kelebihan? tentu saja jawabannya adalah bukan. Mencari diri lebih dalam dari pada itu, ini masalah hakikat dan tujuan hidup , tapi sialnya saya sendiri juga masih bingung tentang ini.

Sebenarnya tujuan hidup sudah jelas sejelas jelasnya :

“Wama kholaqtul jinna wal insa illa liyakbudun” yang bahasa indonesianya kira2 “Dan tidak Aku ciptakan Jin dan Manusia hanya kecuali untuk beribadah kepadaKu”
(QS. Adz-Dzariyat : 56).

Bagaimana, Bingung ? ya sama :D

Note:

  • Jika ada Kesalahan tulis dan arti Mohon Dikoreksi, karena saya tidak menulisnya dalam tulisan arab
  • diambil dari beberapa materi.

One Response

  1. AngelNdutz @ February 4th, 2009 | 3:56 pm

    iyah ne Ndutz binun :(

Leave a Response