Kopi Arabika Indonesia

Bicara tentang makanan indonesia memang jagonya, terutama untuk rempah2 dan kelompok perangsangnya. Eitss… maksudnya tumbuhan yang memiliki senyawa perangsang seperti teh, kopi, kakao dan tembakau.

Sejak dulu saya senang dengan film2 jepang atau korea, karena selain ceritanya lucu dan asyik juga dari pemainya rata2 modis banget. jadi kelihatan bersih dan beretika sekali. Tapi bukan ini yang akan saya tulis.

Yang akan saya tulis adalah Kopi Robusta dari Indonesia, kemarin saya menonton sinetron coffeeprince dan yang membuat saya tertarik adalah disitu terdapat adegan dimana si tokoh pria yang membeli kedai kopi dan membangun ulang kedai tersebut secara total, dan kopi yang dipilih diantaranya adalah Indonesian Arabica.

Saya jadi ingat. dulu setiap pergantian semester pasti ada acara OSPEK lapangan yang selalu ke kebun kopi dan teh PTPN. jadi saya tahu banyak tentang seluk beluk kopi dan teh, bahkan saya pernah magang selama 2 minggu di kebun teh kertowono, semua orang PTPN bilang bahwa hasil kopi dan teh kita sangat diminati oleh  pasar luar, bahkan cara penjualanyapun terbilang membanggakan, yaitu dengan cara lelang. Jadi yang berani nawar tertinggi dia yang akan beli.

Yang menyedihkan adalah orang indonesia asli sangat jarang bisa merasakan kopi arabica dan teh CTC yang berkualitas ini karena semuanya di kirim ke luar. jikapun di jual ke lokal itu adalah produk dust atau sisa dan tidak diterima dijual ke luar. Untuk informasi saja, teh sariwangi (menurut orang PTPN) membeli produk dust ini untuk produknya, jadi kalo iklanya bilang dari pucuk teh pilihan – berati dipilih yang sisa maksudya-mungkin. Produk dust adalah teh yang berasal dari pecahan hasil sortiran teh CTC dan dari batang2 teh yang terikut pengolahan dan dihancurkan/dikecilkan. Tapi memang harus diakui produk dust ini memiliki rasa dan aroma yang kuat. saya sendiri merasakanya dan memang beda sekali dengan produk teh kemasan yang biasa di jual di toko.

Kembali ke masalah kopi, jika anda berkunjung ke situsnya starbuck (gerai kopi yang menggurita di dunia), maka anda akan melihat produk kemasan khusus yang tulisanya Sumatra coffee. Gimana hebat bukan produk2 hasil indonesia?

Hebat bukan

A Web Professional VS WYSIWYG editor

Seorang profesional web designer&developer negeri seberang memberikan argumen berikut :

WYSIWYG-editors are often criticized by real coding ninjas for bloated, dirty and not standards-complaint source code they?ve been producing over the last years.

Kemudian dia memberikan komentar balik untuk dirinya sendiri (bijaksana sekali bukan?) :

Sometimes you need to provide your clients with some simple tools to edit or update their web-sites. And this is where the utility of WYSIWYG-editors comes in. As a web-professional you need to provide your clients with some sophisticated advice and offer a simple yet effective tool ? e.g. a WYSIWYG-editor

Sekarang yang menjadi pertanyaan apakah seorang web-profesional harus menggunakan web editor WYSIWYG seperti dreamweaver atau tidak untuk membuat deainnya. Inilah sulitnya. disatu sisi WYSIWYG akan menghemat energi dan waktu kita, tapi di satu sisi lain akan menghasilkan kode yang kotor dan tidak standart terhadap desainya dan yang paling berbahaya adalah mengurangi dan mengikis feeling dan skill coding kita, Sehingga banyak web profesional yang memilih jalan moderate,  dia mengunakan text editor sekaligus WYSIWYG editor.bahkan ada yang berargumen berikut :

I heve been using Dreamweaver for years, but I only ever use it in code view and stuck with it because I sometimes need a code hint .. and I have a useable management, ftp and diff system going on with it (using winmerge).But I feel daft using a WYSIWYG app to simply type markup, especially when I?m sure there must be a hundred and one better scripting/coding interfaces, yet I?ve never managed to find one that works particularly well for me. Only a cluster of apps which must be used together.

Sebagian web profesional bahkan mengaku say goodbye dan mengajak sesama web profesional untuk tidak memakai WYIWYG seperti argumenya ini:

cutting your teeth on dreamweaver or one of these other freebie toys is a great way learn the ropes. You need to move into textpad or something non-GUI based to really gain any real talent or skill.A lot of big companies will ask you to hand write out some code for them as an example in an interview. If DOCTYPE and meta information wasn?t the first thing you thought of when reading that, your not even close yet to being a professional and should consider switching to a different development environment.

Tapi pendapat ini dibantah dengan sangat bijaksana oleh seorang web-profesional lain :

just because I can?t write the DOCTYPE or meta info from memory doesn?t mean I?m not close to being a professional. It means that I have templates set-up with these things already in place to maximize my time and be able to make more money. Part of being a professional is good time management. If I have to repetitively type something because that makes me a ?professional? then I?ll gladly call myself an amateur and pass on those savings to my clients?which I?m sure they appreciate a lot more than knowing if I can type all the code by hand.

Sebenarnya perdebatan ini sudah lama sejak jamanya frontpagenya microsoft dulu, yang merajai WYSIWYG editor. Memang seorang yang ingin menjadi web profesonal harus benar2 bijak dalam peningkatan skill dan management waktunya tapi juga harus bisa menyelesaikan desainya sesuai deadline. 

 

Mungkin yang terbaik adalah saran Web Profesional berikut, yang mengaku telah menjadi web designer sejak tahun 1990 (wow saya masih kayak apa dulu ya..) : learn HTML first, then install Dreamweaver.

 

Kayaknya masuk akal sekali belajar dulu dasar2nya terus memahami konsepnya, selanjutnya belajar saving waktu dan energi dengan WYSIWYG editor.

Note : WYSIWYG editor sekelas Dreamweaver CS3 seharga $400 kalau anda keberatan dengan harganya maka anda dapat menggunakan WYSIWYG editor lain yang opensource seperti NVU (seperti pada website saya ini) atau Quanta Plus (linux only KDE window decorator)

Linus Torvalds memilih Fedora Core 9 untuk OS-nya

Inilah tulisan linus ke MINIX newsgroup comp.os.minix ketika dia telah mencoding ulang MINIX agar bisa jalan di computer 386 (486) yang nantinya dikenal dengan Linux.

?I’m doing a (free) operating system (just a hobby, won’t be big and professional like gnu) for 386 (486) AT clones. This has been brewing since april, and is starting to get ready.

17 tahun kemudian ketika linux telah menjadi soul dari supercomputers sampai mobile phones dan beragam distro turunanya, maka dia memilih fedora core sebagai distronya, inilah petikan wawancara dengan Linus Torvalds

Which Linux distro do you use? ‘

Linus: ‘I’ve used different distributions over the years. Right now I happen to use Fedora 9 on most of the computers I have, which really boils down to the fact that Fedora had fairly good support for PowerPC back when I used that, so I grew used to it. But I actually don’t care too much about the distribution, as long as it makes it easy to install and keep reasonably up-to-date. I care about the kernel and a few programs, and the set of programs I really care about is actually fairly small.

And when it comes to distributions, ease of installation has actually been one of my main issues – I’m a technical person, but I have a very specific area of interest, and I don’t want to fight the rest. So the only distributions I have actively avoided are the ones that are known to be “overly technical” – like the ones that encourage you to compile your own programs etc.

Yeah, I can do it, but it kind of defeats the whole point of a distribution for me. So I like the ones that have a name of being easy to use. I’ve never used plain Debian, for example, but I like Ubuntu. And before Debian people attack me – yeah, I know, I know, it’s supposedly much simpler and easier to install these days. But it certainly didn’t use to be, so I never had any reason to go for it. ’